Matius 6:1-4 “ Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6:3) Saya yakin banyak orang yang belum memahami kata “nonproletisi." Menurut UU. no 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana, salah satu prinsip dalam penanggulangan bencana adalah ‘nonproletisi.' Nonproletisi adalah larangan untuk menyebarkan agama atau keyakinan pada saat keadaan darurat bencana, terutama melalui pemberian bantuan dan pelayanan darurat bencana. Penyebaran agama itu bukan sesuatu yang buruk. Hampir semua agama mengajarkan supaya pemeluknya menyebarkan ajarannya kepada orang lain. Jika seseorang menemukan sesuatu yang baik dari suatu ajaran, maka tak ada salahnya jika dia memberitahukannya kepada orang lain. Bukankah ini hal yang baik. Yang menjadi masalah adalah jika penyebaran agama itu dilakukan secara manipulatif. Dalam kondisi normal, perpindahan keyakinan sesungguhnya adalah hak setiap orang sepanjang hal itu dilak...
Cara pandang atas dunia kerja modern ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yang berusia hampir 3000 tahun. Pemikiran mereka berpusat pada manusia dan berusaha menjauhkan diri dari Allah. Protragoras melemparkan pepatah bahwa, “manusia adalah tolak ukur segala hal.” Pola pikir orang Yunani tidak dapat dipisahkan dari konsep “dualisme”, yaitu gagasan tentang tingkatan yang lebih tinggi dan lebih rendah. Tingkatan lebih tinggi disebut “bentuk” yang terdiri dari ide, gagasan dan pikiran yang tidak pernah mati. Sedangkan tingkatan yang lebih rendah bersifat rendah dan sementara. Hal yang bersifat rohani dianggap lebih mulia dan lebih tinggi daripada hal bersifat jasmani. Dari sini muncullah pemisahan bidang pekerjaan antara yang sekuler dan rohani. Pekerjaan duniawi atau sekuler lebih rendah daripada pekerjaan rohani. Pandangan ini menyebabkan orang yang bekerja di sektor biasa atau pemerintah merasa belum melayani Tuhan. Mereka menganggap pekerjaannya itu masih kalah berharga di ma...
Bacaan : Markus 6:30-44 Nats : “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.” --Markus 6:34 Jean Henri Fabre adalah seorang ahli serangga dari Perancis. Saat berjalan-jalan di hutan, dia tertarik pada perilaku ulat-ulat bulu yang berjalan berurutan dalam sebuah barisan. Satu ekor ulat bulu berjalan mengikuti ulat bulu yang ada di depannya. Mereka mengikuti secara persis, tidak menyimpang ke kiri atau ke kanan. Maka Fabre menangkap beberapa ulat bulu dan membawanya pulang. Di laboratoriumnya, dia mengatur ulat bulu itu membentuk lingkaran mengelilingi pot bunga. Ternyata ulat-ulat bulu itu kemudian berjalan mengitari pot bunga tanpa berhenti, seperti komidi putar. Meski ada makanan di tengah lingkar...
Komentar
Posting Komentar